Selasa, 22 Maret 2016

Inilah Pria Pertama Yang Membaca Al - Quran Di Dunia

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Inilah Pria Pertama Yang Membaca Al - Quran Di Dunia

Inilah Pria Pertama Yang Membaca Al - Quran Di Dunia

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab ini diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Pasti di antara kita sudah banyak yang mengetahui mengenai sejarah diturunkannya Al-Qur’an. Namun, apakah anda sudah mengetahui siapa orang yang pertama kali membaca Al-Qur’an di dunia ini?
Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada umatnya. Hal tersebut karena di dalamnya berisi ajaran-ajaran Islam agar umatnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan. Untuk itulah, Nabi Muhammad SAW melakukan khotbah di sejumlah negara untuk mengamalkan segala ajaran islam seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an kepada pengikutnya.
Nabi Muhammad SAW bertemu untuk pertama kalinya dengan seorang pria yang bernama Abdullah ibnu Mas’ud. Pada saat itu, Abdullah ibnu Mas’ud adalah seorang peternak kambing yang merasa bahwa dirinya telah mendapatkan mukjizat karena dapat berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW.
Pada saat itu, Nabi Muhammad ingin memperlihatkan apabila mukjizat Allah itu benar nyata, dirinya berusaha untuk membuat air susu kambing milik Abdullah Ibnu Mas’ud itu mengalir deras. Nabi Muhammad mengusapkan tangannya di kantung susu kambing milik ibnu. Tidak lama setelahnya kambing tersebut mengeluarkan air susu dengan saat deras. Hal tersebut dilihat langsung oleh ibnu.
Kejadian itulah yang membuat dirinya kemudian lebih menyimpan kepercayaan kepada Islam. Untuk membuktikan apabila dirinya benar-benar pengikut Nabi Muhammad, dia pun langsung melafalkan ayat suci Al-Qur’an di hadapan kaum Quraisy. Abdullah ibnu Mas’ud  inilah yang menjadi orang pertama kali membaca Al-Qur’an di dunia.
Ia melantunkan beberapa ayat suci Al-Qur’an dengan penuh hikmat tepatnya waktu dhuha. Saat itu, Abdullah bersi keras mengaku bahwa dirinya adalah pengikut agama Islam. Ia juga membacakan ayat suci Al-Qur’an surah Arrahman ayat 1-5.
Setelah membaca Al-Qur’an itu Abdullah menjadi sasaran amukan dari kaum Quraisy. Hal tersebut dikarenakan kaum Quraisy adalah kaum yang paling membenci Islam. Abdullah dipukuli hingga babak belur oleh kaum Quraisy karena merasa terganggu atas lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan begitu keras.
Akan tetapi, perlakuan kasar tersebut tidak membuat Abdullah jera. Itu dibuktikan dengan keesokan harinya ia kembali mengamalkan ajaran agama Islam kepada para sahabatnya yang ada di Mekah. Abdullah meminta bantuan kepada para umat yang ada disana untuk membantunya mengajari serta memperkenalkan bacaan Al-Qur’an.
Nabi Muhammad SAW dengan senang hati langsung mengajari Abdullah untuk bisa fasih dalam membaca Al-Qur’an. Pada saar itu, Abdullah mengaku bahwa dirinya sudah berhasil menghafal 70 surah yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan Abdullah juga diberi pesan agar terus rajin membaca Al-Qur’an oleh Rasulullah.
“Barangsiapa senang membaca Al-Qur’an dengan benar, sebagaimana ketika diturunkan, hendaklah ia mendengar bacaan Ibn Ummu ‘Abd (Abdullah ibnu Mas’ud),”.
Pada akhirnya Rasulullah percaya bahwa Abdullah adalah orang yang benar-benar tulus yang ingin membaca Al-Qur’an. Kemudian, dirinya meminta Abdullah untuk membacakan ayat suci Al-Qur’an di hadapannya. Setelah mendengarkan lantunan ayat yang dibaca oleh Abdullah, Rasulullah sempat meneteskan airmata karena kagum dengan Abdullah yang mampu dalam sekejab saja mampu melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan begitu indah dan fasih.
Sejak saat itulah, Rasulullah kemudian memberikan kekuatan kepada Abdullah serta menobatkan dirinya sebagai orang yang pertama kali membaca Al-Qur’an di dunia ini.


Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Keutamaan Membaca Al - Quran

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Keutamaan Membaca Al - Quran

Keutamaan Membaca Al - Quran


Dalil keutamaan membaca AlQuran perlu kita ketahui agar ketika kita membacanya, kita bisa menikmati dan senantiasa termotivasi. Membaca AlQuran adalah hal yang mempunyai keutamaan besar di hadapan Allah. Membaca AlQuran adalah tanda bahwa kita mencintai Rabb kita.

Di antara keutamaan Quran :
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. ” (An-Nahl: 89).
“.. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. ” (Al-Ma’idah: 15-16).
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang beriman. ” (Yunus: 57).
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya. ” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, katanya : Aku mendengar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Didatangkan pada hari KiamatAl-Qur’an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini. ” (HR, Muslim).
Dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. ” (HR. Al-Bukhar)
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, katanya : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).
Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kama lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca. “(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).
Dari Aisyah radhiallahu ‘anhu, katanya : Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Tidak boleh hasut kecuali dalam dua perkaua, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang “(Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Yang dimaksud hasut di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. ( Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469.
Maka bersungguh-sungguhlah -semoga Allah menunjuki Anda kepada jalan yang diridhaiNya untuk mempelajari Al-Qur’anul Karim dan membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah Ta’ala. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para ahli Al-Qur’an berupa keutamaan yang besar, pahala yang banyak, derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur’an, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.
Dan perlu Anda ketahui, bahwa membaca Al-Qur’an yang berguna bagi pembacanya, yaitu membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika ia menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Al-Qur’an itu menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur’an itu menjadi hujjah terhadap dirinya (mencelakainya).
“lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (Shad: 29).
Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Al-Qura’nul Karim, sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Qur’an … “(Al-Baqarah: 185).
Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur’anul Karim.
Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur’an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Qur’an kepada orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.
Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Qur’anul Karim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. ” (HR. Muslim).
Ada dua cara untuk mempelajari Quran :
1. Membaca ayat yang dibaca sahabat Anda.
2. Membaca ayat sesudahnya. Namun cara pertama lebih baik.
Dalam hadits Ibnu Abbas di atas disebutkan pula mudarasah antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah :
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu ‘), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. “(Al-Muzzammil: 6).
Disunatkan membaca Quran dalam kondisi sesempurna mungkin, yakni dengan bersuci, menghadap kiblat, mencari waktu-waktu yang paling utama seperti malam, setelah maghrib dan setelah fajar.
Boleh membaca sambil berdiri, duduk, tidur, berjalan dan menaiki kendaraan. Berdasarkan firman Allah :
“(Yaitu) orang-orang yang dzikir kedada Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring… ” (A1’Imran: 191).
Kadar Bacaan Quran yang Disunnahkan
Disunatkan mengkhatamkan Quran setiap minggu, dengan setiap hari’ membaca sepertujuh dari Quran dengan melihat mushaf, karena melihat mushaf merupakan ibadah. Juga mengkhatamkannya kurang dari seminggu pada waktu-waktu yang mulia dan di tempat-tempat yang mulia, seperti: Ramadhan, Dua Tanah Suci dan sepuluh hari Dzul Hijjah karena memanfaatkan waktu dan tempat. Jika membaca Quran khatam dalam setiap tiga hari pun baik, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Amr :
“Bacalah Quran itu dalam setiap tiga hari “( Lihat kitab Fadhaa’ilul qur’an, oleh Ibnu Katsir, him. 169-172 dan Haasyiatu Muqaddimatit Tafsiir, oleh Ibnu Qaasim, hlm. 107.)
Dan makruh menunda khatam Quran lebih dari empat puluh hari, bila hal tersebut dikhawatirkan membuatnya lupa. Imam Ahmad berkata : “Betapa berat beban Quran itu bagi orang yang menghafalnya kemudian melupakannya.”
Dilarang bagi yang berhadats kecil maupun besar menyentuh mushaf, dasarnya firman Allah Ta ‘ala :
“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. “(Al-Waqi’ah: 79).
Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam :
“Tidak dibenarkan menyentuh Quran ini kecuali orang yang suci. ” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa,Ad-Daruquthni dan lainnya)” (Hal ini diperkuat hadits Hakim bin Hizam yang lafazhnya: “Jangan menyentuh Al-qur’an kecuali jika kamu suci.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim dengan menyatakannya shahih).

Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Bukti Membaca Al - Quran Bermanfaat Bagi Kesehatan

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Bukti Membaca Al - Quran Bermanfaat Bagi Kesehatan

Bukti Membaca Al - Quran Bermanfaat Bagi Kesehatan


Alquran diturunkan untuk petunjuk bagi kaum Muslim. Allah memberikan pahala kepada setiap Muslim yang membaca kitab suci ini. Namun tahukan Anda, manfaat membaca Al Quran ternyata juga berdampak bagus terhadap kesehatan?
Soal manfaat membaca Al Quran terhadap kesehatan itu telah dibuktikan dalam penelitian di sebuah klinik besar di Florida, Amerika Serikat. Al Qadhi, peneliti pada klinik tersebut, mengatakan seseorang yang membaca atau mendengar bacaan ayat Al quran akan mengalami perubahan kondisi psikologis.
Hal ini terbukti setelah Dr. Al Qadhi melakukan sebuah penelitian di klinik besar Florida Amerika serikat tantang manfaat membaca Al-Qur’an bagi seseorang. Dia menyimpulkan bahwa seseorang yang membaca ataupun mendengar bacaan ayat suci Al Quran maka orang tersebut memiliki perubahan pada kondisi psikologisnya.
Penurunan depresi, ketenangan jiwa, kesedihan menurun itulah yang dirasakan oleh seseorang yang dijadikan objek penelitian Dr Al Qadhi itu dengan memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an beberapa jam kepadanya. Penelitian ilmiah tersebut didukung dengan alat penelitian yang super canggih seperti detak jantung, alat pengukur tekanan darah, ketahanan kulit terhadap aliran listrik dan ketahanan otot. Ternyata dari data yang dia dapatkan setelah memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dia menyimpulkan bahwa Al-Qur’an memengaruhi sebesar 97 % ketenangan jiwa seseorang dan juga menyembuhkan penyakit. ( Baca juga : 17 Keutamaan membaca Al Quran Setiap Hari )
Selain itu penelitian Dr. Al Qadhi juga didukung oleh penelitian dokter yang berbeda. Dari penelitian tersebut dia juga menyimpulkan bahwa lantunan ayat suci Al-Qur’an berpengaruh sekitar 97 % bagi ketenangan jiwa seseorang dan pernyataan tersebut disampaikan pada Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984.
Penelitian tersebut diperkuat lagi dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Salim di Universitas Boston. Dia melakukan penelitian dengan menggunakan 5 orang yang terdiri dari 3 orang pria dan 2 orang wanita. sebelumnya 5 orang tersebut belum mengerti tentang bahasa arab, dan belum mengerti apa yang akan diperdengarkan nantinya adalah Al-Qur’an.
Penelitian Muhammad Salim ini dilakukan sebanyak 210 kali dengan melalui 2 sesi yakni sesei yang pertama adalah mendengarkan ayat suci Al-Qur’an dengan menggunakan tartil. Dan sesi yang kedua adalah memperdengarkan bahasa arab saja tanpa menggunakan Al-Qur’an. Dari penelitian tersebut Muhammad Salim dapat menyimpulkan bahwa sekitar 65 % respond terhadap pembacaan ayat suci Al-Qur’an dengan menggunakan tartil merasa tenang. Sedangkan untuk pembacaan bahasa arab saja sekitar 35 % merasakan ketenangan. Selain membaca banyak juga keutamaan mempelajari Al Quran dalam pembahsan kajian islam.
Nah dari beberapa penelitian ilmiah tersebut dapat dibuktikan bahwa Al-Qur’an mempunyai manfaat yang luar biasa dalam kehidupan manusia terutama ketenangan Jiwa seseorang. Maka dari itu kita sebagai umat islam tentunya harus selalu mengkaji Al-Qur’an agar hidup kita semakin tenang dan sehat. semoga bisa menambah khasanah dunia islam dan dapat menambah keimanan kita.


Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Mengapa Surat Al - Ikhlas Senilai Sepertiga Al - Quran

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Mengapa Surat Al - Ikhlas Senilai Sepertiga Al - Quran

Al - Ikhlas


Keterangan bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga al-Quran bersumber dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
Di suatu malam, ada seorang sahabat yang mendengar temannya membaca surat al-Ikhlas dan diulang-ulang. Pagi harinya, sahabat ini melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan nada sedikit meremehkan amalnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat al-Ikhlas itu senilai sepertiga al-Quran.” (HR. Bukhari 5013 dan Ahmad 11612).
Dalam hadis lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat,
أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Sanggupkah kalian membaca sepertiga al-Quran dalam semalam?”
Mereka bertanya, ‘Bagaimana caranya kita membaca 1/3 al-Quran?’
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,
(قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Qul huwallahu ahad senilai sepertiga al-Quran.” (HR. Muslim 1922).

Makna al-Ikhlas 1/3 al-Quran

Dalam al-Quran, ada 3 pembahasan pokok:
[1] Hukum, seperti ayat perintah, larangan, halal, haram, dst.
[2] Janji dan ancaman, seperti ayat yang mengupas tentang surga, neraka, balasan, termasuk kisah orang soleh dan kebahagiaan yang mereka dapatkan dan kisah orang jahat, berikut kesengsaraan yang mereka dapatkan.
[3] Berita tentang Allah, yaitu semua penjelasan mengenai nama dan sifat Allah.
Karena surat al-Ikhlas murni membahas masalah tauhid, bercerita tentang siapakah Allah Ta’ala, maka kandungan makna surat ini menyapu sepertiga bagian dari al-Quran.
Kita simak keterangan al-Hafidz Ibnu Hajar,
قوله ثلث القرآن حمله بعض العلماء على ظاهره فقال هي ثلث باعتبار معاني القرآن لأنه أحكام وأخبار وتوحيد وقد اشتملت هي على القسم الثالث فكانت ثلثا بهذا الاعتبار
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Senilai sepertiga al-Quran” dipahami sebagian ulama sesuai makna dzahirnya. Mereka menyatakan, bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga dilihat dari kandungan makna al-Quran. Karena isi Quran adalah hukum, berita, dan tauhid. Sementara surat al-Ikhlas mencakup pembahasan tauhid, sehingga dinilai sepertiga berdasarkan tinjauan ini.  (Fathul Bari, 9/61)
Penjelasan kedua,
Bahwa isi quran secara umum bisa kita bagi menjadi 2:
[1] Kalimat Insya’ (non-berita): berisi perintah, larangan, halal-haram, janji dan ancaman, dst.
[2] Kalimat khabar (berita): dan berita dalam al-Quran ada 2:
[a] Berita tentang makhluk: kisah orang masa silam, baik orang soleh maupun orang jahat.
[b] Berita tentang khaliq: penjelasan tentang siapakah Allah, berikut semua nama dan sifat-Nya.
Mengingat surat al-Ikhlas hanya berisi berita tentang Allah, maka surat ini menyapu sepertiga makna al-Quran.
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,
ولذلك عادلت ثلث القرآن لأن القرآن خبر وإنشاء والإنشاء أمر ونهي وإباحة والخبر خبر عن الخالق وخبر عن خلقه فأخلصت سورة الإخلاص الخبر عن الله
Surat al-Ikhlas senilai 1/3 al-Quran, karena isi al-Quran ada 2: khabar dan Insya’. Untuk Insya’ mencakup perintah, larangan, dan perkaran mubah. Sementara khabar, di sana ada khabar tentang kkhaliq dan khabar tentang ciptaan-Nya. Dan surat al-Ikhlas hanya murni membahas khabar tentang Allah. (Fathul Bari, 9/61)

Pahalanya Senilai Membaca 1/3 al-Quran

Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya memberikan pahala ibadah kepada hamba-Nya dengan nilai yang beraneka ragam. Ada ibadah yang diberi nilai besar dan ada yang dinilai kecil. Sesuai dengan hikmah Allah. sehingga, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang usianya relatif pendek, bisa mendapatkan pahala besar tanpa harus melakukan amal yang sangat banyak.
Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi oleh Allah lailatul qadar, yang nilainya lebih baik dari pada 1000 bulan. Ada juga masjidil haram, siapa yang shalat di sana dinilai 100.000 kali shalat. Kemudian surat al-Ikhlas, siapa membacanya sekali, dinilai mendapatkan pahala membaca 1/3 al-Quran.
Dan Allah Maha Kaya untuk memberikan balasan apapun kepada hamba-Nya sesuai yang Dia kehendaki.

Senilai dalam Pahala BUKAN Senilai dalam Amal

Kami ingatkan agar kita membedakan antara al-Jaza’ dengan al-ijza’.
Al-jaza’ (الجزاء) artinya senilai dalam pahala yang dijanjikan
Al-Ijza’ (الإجزاء) artinya senilai dalam amal yang digantikan.
Membaca surat al-Ikhlas mendapat nilai seperti membaca 1/3 al-Quran maknanya adalah senilai dalam pahala (al-Jaza’). Bukan senilai dalam amal (al-Ijza’).
Sehingga, misalnya ada orang yang bernadzar untuk membaca satu al-Quran, maka dia tidak boleh hanya membaca surat al-Ikhlas 3 kali, karena keyakinan senilai dengan satu al-Quran. Semacam ini tidak boleh. Karena dia belum dianggap membaca seluruh al-Quran, meskipun dia mendapat pahala membaca satu al-Quran.
Sebagaimana ketika ada orang yang shalat 2 rakaat shalat wajib di masjidil haram. Bukan berarti setelah itu dia boleh tidak shalat selama 50 puluh tahun karena sudah memiliki pahala 100.000 kali shalat wajib.
Benar dia mendapatkan pahala senilai 100.000 kali shalat, tapi dia belum disebut telah melaksanakan shalat wajib selama puluhan tahun itu.
Berbeda dengan amal yang memenuhi al-Ijza’, seperti jumatan, yang dia menggantikan shalat dzuhur. Sehingga orang yang shalat jumatan tidak perlu shalat dzuhur. Atau orang yang tayammum karena udzur, dia tidak perlu untuk wudhu, karena tayammum senilai dengan amalan wudhu bagi orang yang punya udzur.
Syaikhul Islam mengatakan,
فالقرآن يحتاج الناس إلى ما فيه من الأمر والنهي والقصص ، وإن كان التوحيد أعظم من ذلك، وإذا احتاج الإنسان إلى معرفة ما أُمر به وما نهي عنه من الأفعال أو احتاج إلى ما يؤمر به ويعتبر به من القصص والوعد والوعيد : لم يسدَّ غيرُه مسدَّه ، فلا يسدُّ التوحيدُ مسدَّ هذا ، ولا تسدُّ القصص مسدَّ الأمر والنهي ولا الأمر والنهي مسدَّ القصص ، بل كل ما أنزل الله ينتفع به الناس ويحتاجون إليه
Al-Quran, dibutuhkan manusia keterangan mengenai perintah, larangan, dan semua kisahyang ada, meskipun tauhid menjadi kajian paling penting dari semua itu. Ketika seseorang butuh untuk mengetahui perintah dan larangan dalam masalah perbuatan, dan butuh  untuk merenungi setiap kisah, janji dan ancaman, maka kajian lainnya tidak bisa menutupi  kebutuhan dia pada itu semua. Kajian tauhid tidak bisa menggantikan kajian perintah dan larangan, demikian pula masalah kisah, tidak bisa menggantika perintah dan larangan atau sebaliknya. Namun semua yang Allah turunkan bermanfaat bagi manusia dan dibutuhkan mereka semua.
Lalu beliau mengatakan,
فإذا قرأ الإنسان { قل هو الله أحد } : حصل له ثوابٌ بقدر ثواب ثلث القرآن لكن لا يجب أن يكون الثواب من جنس الثواب الحاصل ببقية القرآن ، بل قد يحتاج إلى جنس الثواب الحاصل بالأمر والنهي والقصص ، فلا تسد { قل هو الله أحد } مسد ذلك ولا تقوم مقامه
Jika seseorang membaca surat al-Ikhlas, dia mendapat pahala senilai pahala sepertiga al-Quran. Namun bukan berarti pahala yang dia dapatkan sepadan dengan bentuk pahala untuk ayat-ayat Quran yang lainnya. Bahkan bisa jadi dia butuh bentuk pahala dari memahami perintah, larangan, dan kisah al-Quran. Sehingga surat al-Ikhlas tidak bisa menggantikan semua itu. (Majmu’ al-Fatawa)

Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Adab Adab Membaca Al - Quran

Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Adab Adab Membaca Al - Quran

Adab Adab Membaca Al - Quran


Al Quran adalah mukjizat terbesar yang pernah diterima umat manusia. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam harus menjaga keutuhan al Quran. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan adab-adab dalam membaca al Quran. Berikut ini adalah hal-hal yang harus kita perhatikan saat membaca al Quran:
·         Bacalah al Quran dengan hati yang ikhlas karena Allah. Jauhilah alasan-alasan duniawi.
·         Sebelum memulai membaca, hendaknya kita membersihkan mulut seperti bersiwak atau gosok gigi.
·         Dianjurkan untuk bersuci atau berwudhu sebelum membaca al Quran.
·         Pilihlah tempat yang suci dan bersih untuk tempat membaca al Quran. Kita disarankan untuk membaca al Quran di masjid. Dengan membaca di masjid, kita dapat sekaligus mendapatkan manfaat iktikaf.
·         Kita disunnahkan untuk menghadap kea rah kiblat saat membaca al Quran.
·         Bacalah taawudz untuk memulai membaca al Quran.
·         Selain surat at Taubah, bacalah basmalah di setiap awal surat.
·         Bacalah al Quran dengan khusyuk agar kita dapat memahami arti pada ayat-ayat al Quran.
Semoga adab-adab di atas dapat kita amalkan setiap kita membaca al Quran.


Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!