Keutamaan Membaca Al - Quran
Dalil keutamaan membaca AlQuran perlu kita ketahui
agar ketika kita membacanya, kita bisa menikmati dan senantiasa termotivasi.
Membaca AlQuran adalah hal yang mempunyai keutamaan besar di hadapan Allah. Membaca
AlQuran adalah tanda bahwa kita mencintai Rabb kita.
Di antara keutamaan Quran :
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. ” (An-Nahl: 89).
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. ” (An-Nahl: 89).
“.. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari
Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki
orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan
kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada
cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan
yang lurus. ” (Al-Ma’idah: 15-16).
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit
(yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang
beriman. ” (Yunus: 57).
“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari
Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya. ” (HR. Muslim dari Abu
Umamah).
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, katanya :
Aku mendengar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Didatangkan pada hari KiamatAl-Qur’an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini. ” (HR, Muslim).
“Didatangkan pada hari KiamatAl-Qur’an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini. ” (HR, Muslim).
Dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, katanya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. ” (HR. Al-Bukhar)
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. ” (HR. Al-Bukhar)
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, katanya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).
“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).
Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma,
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kama lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca. “(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).
“Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kama lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca. “(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).
Dari Aisyah radhiallahu ‘anhu, katanya : Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
“Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda :
“Tidak boleh hasut kecuali dalam dua perkaua, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang “(Hadits Muttafaq ‘Alaih).
“Tidak boleh hasut kecuali dalam dua perkaua, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang “(Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Yang dimaksud hasut di sini yaitu mengharapkan seperti
apa yang dimiliki orang lain. ( Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469.
Maka bersungguh-sungguhlah -semoga Allah menunjuki
Anda kepada jalan yang diridhaiNya untuk mempelajari Al-Qur’anul Karim dan
membacanya dengan niat yang ikhlas untuk
Allah Ta’ala. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan
mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para ahli
Al-Qur’an berupa keutamaan yang besar, pahala yang banyak, derajat yang tinggi
dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
dahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur’an, mereka tidak melaluinya
tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.
Dan perlu Anda ketahui, bahwa membaca Al-Qur’an yang
berguna bagi pembacanya, yaitu membaca disertai merenungkan dan memahami
maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat
yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau
menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya.
Jika ia menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah
rahmat-Nya; atau menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada Allah dan takut
akan siksa-Nya. Al-Qur’an itu menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan
mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka
Al-Qur’an itu menjadi hujjah terhadap dirinya (mencelakainya).
“lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu
penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya
orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (Shad: 29).
Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Al-Qura’nul
Karim, sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan
permulaan Al-Qur’an … “(Al-Baqarah: 185).
Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap
malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur’anul Karim.
Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur’an
pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Qur’an kepada
orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan
Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.
Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk
mempelajari Al-Qur’anul Karim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
:
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. ” (HR. Muslim).
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. ” (HR. Muslim).
Ada dua cara untuk mempelajari Quran :
1. Membaca ayat yang dibaca sahabat Anda.
2. Membaca ayat sesudahnya. Namun cara pertama lebih baik.
1. Membaca ayat yang dibaca sahabat Anda.
2. Membaca ayat sesudahnya. Namun cara pertama lebih baik.
Dalam hadits Ibnu Abbas di atas disebutkan pula
mudarasah antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan
dianjurkannya banyak-banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan pada malam
hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali
terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti
dinyatakan dalam firman Allah :
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu ‘), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. “(Al-Muzzammil: 6).
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu ‘), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. “(Al-Muzzammil: 6).
Disunatkan membaca Quran dalam kondisi sesempurna
mungkin, yakni dengan bersuci, menghadap kiblat, mencari waktu-waktu yang
paling utama seperti malam, setelah maghrib dan setelah fajar.
Boleh membaca sambil berdiri, duduk, tidur, berjalan dan menaiki kendaraan. Berdasarkan firman Allah :
“(Yaitu) orang-orang yang dzikir kedada Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring… ” (A1’Imran: 191).
Boleh membaca sambil berdiri, duduk, tidur, berjalan dan menaiki kendaraan. Berdasarkan firman Allah :
“(Yaitu) orang-orang yang dzikir kedada Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring… ” (A1’Imran: 191).
Kadar Bacaan Quran
yang Disunnahkan
Disunatkan mengkhatamkan Quran setiap minggu, dengan
setiap hari’ membaca sepertujuh dari Quran dengan melihat mushaf, karena
melihat mushaf merupakan ibadah. Juga mengkhatamkannya kurang dari seminggu
pada waktu-waktu yang mulia dan di tempat-tempat yang mulia, seperti: Ramadhan,
Dua Tanah Suci dan sepuluh hari Dzul Hijjah karena memanfaatkan waktu dan
tempat. Jika membaca Quran khatam dalam setiap tiga hari pun baik, berdasarkan
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Amr :
“Bacalah Quran itu dalam setiap tiga hari “( Lihat
kitab Fadhaa’ilul qur’an, oleh Ibnu Katsir, him. 169-172 dan Haasyiatu
Muqaddimatit Tafsiir, oleh Ibnu Qaasim, hlm. 107.)
Dan makruh menunda khatam Quran lebih dari empat puluh
hari, bila hal tersebut dikhawatirkan membuatnya lupa. Imam Ahmad berkata :
“Betapa berat beban Quran itu bagi orang yang menghafalnya kemudian
melupakannya.”
Dilarang bagi yang berhadats kecil maupun besar
menyentuh mushaf, dasarnya firman Allah Ta ‘ala :
“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. “(Al-Waqi’ah: 79).
“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. “(Al-Waqi’ah: 79).
Dan
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam :
“Tidak dibenarkan menyentuh Quran ini kecuali orang yang suci. ” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa,Ad-Daruquthni dan lainnya)” (Hal ini diperkuat hadits Hakim bin Hizam yang lafazhnya: “Jangan menyentuh Al-qur’an kecuali jika kamu suci.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim dengan menyatakannya shahih).
“Tidak dibenarkan menyentuh Quran ini kecuali orang yang suci. ” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa,Ad-Daruquthni dan lainnya)” (Hal ini diperkuat hadits Hakim bin Hizam yang lafazhnya: “Jangan menyentuh Al-qur’an kecuali jika kamu suci.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim dengan menyatakannya shahih).
Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar